Duniaku

Katanya aku bisa menulis apa tujuanku menulis blog ini. Hhaha

Aku tidak punya tujuan sih 😐

Aku hanya menulis beberapa hal untuk mengalihkan perhatianku saat sedang sendirian.

pos

Iklan

Jeratan Pinjaman Online

Pinjaman online itu mengerikan. Kalau kita cari dengan kata kunci “terjerat hutang online”. Hasilnya ratusan. Belum lagi kalau kita masuk blog. Kita bisa nemu deretan komentar memohon pertolongan. Dan jumlahnya bukan hanya puluhan.

Menyedihkan?

Tentu saja. Pernah dengar kan, jalannya orang yang memakan uang riba itu seperti berjalannya orang gila.

Yap. Seperti hidup antara sadar dan tidak sadar. Kalau ada yang nawarin buat beli ginjal mereka. Saya yakin mereka bakal langsung setuju.

Itu bukan ejekan. Tapi kenyataan.

Sepertinya tahun-tahun ini benar-benar lagi gencar banget pinjaman online bermunculan. Dan jumlah korban yang jatuh pun tidak bisa disepelekan.

Tentu saja orang yang paling pintar seindonesia. Pasti bilang. “Punya hutang bayar makanya. Orang juga usaha pingin untung.”

Oke kawan-kawanku yang paling pintar seindonesia. Omongan kalian bener lho, karena saya juga pernah ada diposisi kalian. Males banget sama yang suka ngutang, giliran ditagih bilangnya mereka korban.

Tapi ini hal berbeda.

Kenapa?

Karena ini hal baru.

Orang Indonesia belum paham.

Seperti saat pertama kali facebook muncul. Orang-orang alay pun menguasai dunia.

Saat pinjaman online mulai muncul. Hal seperti ini harusnya sudah bisa diprediksi bakal terjadi.

Dalam beberapa tahun. Orang yang lebih paham pasti bermunculan. Masalah ini nanti akan mulai teredam. Tapi bagaimana dengan sekarang?

Mengerikan.

Lihat orang bunuh diri, ngemis di blog dan playstore, nawarin ginjal diinternet. Serem kan?

Sebagian besar kesalahan memang ada pada peminjam yang kesannya melalaikan hutang. Tapi apa benar yang jualan uang juga gak bersalah?

Ini bukan soal untung atau rugi lho.

Tapi waktu seseorang mutusin untuk jadi pendana bagi orang lain. Berapa sih keuntungannya? Gak seberapa yah setau saya. Soalnya saya pernah coba juga iseng daftar jadi pendana disalah satu aplikasi.

Saya gak ingat berapa persen keuntungannya. Tapi dari 500.000 yang saya pinjamkan untuk 30 hari. Untungnya cuma sekitaran ratusan rupiah sampai sepuluh ribu. Mungkin aplikasi lain nawarin lebih besar ya, saya kurang tau. Kalau kamu gak berani ambil resiko buat masukin lebih banyak uang. Kayanya ngomongin soal untung ketinggian deh. Hhaha.

Jualan uang kaya gitu sepintas wajar-wajar saja. Toh kita usaha. Semua yang usaha pasti pingin untung. Dan orang yang mulai ambil pinjaman pun awalnya menyepelekan.

Toh cuma limaratus ribu. Paling besar juga satu juta dua juta. Bayarnya gampang. Padahal gak sadar kalau penghasilannya kecil. Gak sadar kalau rejeki tuhan yang atur. Gimana kalau suatu hari tiba-tiba dipecat dari tempat kerja? Jadi pengangguran dan tunggakan sampai puluhan juta?

Semua yang terlibat didalam lingkaran setan itu sebenarnya menjerumuskan diri sendiri kalau menurut saya.

Dari satu juta yang ditanam, berapa puluh ribu untungnya?

Terus kalau kredit macet dan peminjam bunuh diri. Tanpa kita sadari kitalah alasan kematian mereka.

Saya rasa udah cukup jelas kenapa dalam agama saya, yang terlibat dalam riba, semuanya dosa.

Karena semuanya saling menjerumuskan.

Seberapa Sulit Hidup dengan Depresi?

Seberapa lelah hidup dengan depresi?
Saya kira amat sangat lelah. Kau harus menghadapi perubahan mood yang berulang kali. Lebih banyak kebingungan dan ada rasa sakit. Jika kau tidak tau, ada rasa sakit yang timbul sama seperti fisikmu terluka. Hanya saja ini tidak terlihat, jadi tidak mudah ditemukan letak lukanya.

Sebenarnya sejak kecil saya cenderung pemurung.

Saya mudah stress.

Tapi keadaan saya memburuk saat proses perceraian saya.

Saya banyak bekerja dan menyibukan diri. Itu mengalihkan sebagian besar beban perhatian saya. Itu bekerja dengan baik seperti olah raga atau berenang. Tapi tak benar-benar menyelesaikan masalah.

Saya terjebak dalam kesedihan selama delapan bulan. Berusaha keluar, mencoba hubungan baru, menghubungi teman lama, tapi dalam beberapa situasi itu malah memperburuk keadaan saya.

Saya kira mengalami kemunduran itu hal yang wajar dialami wanita bercerai. Saat saya kira ini sudah sangat lama, saya sudah melanjutkan hidup saya, memulai hubungan baru. Saya seperti terjebak, saya kira saya memaafkan tapi saya ternyata mengalami trauma. Entah bagaimana saya memiliki keyakinan kuat kalau saya sedang disakiti dan diperlakukan buruk oleh pasangan saya. Rasanya seperti kejadian saat ini bercampur acak dengan pengalaman masa lalu saya. Sulit dibedakan.

Tangan saya gemetar selama tiga bulan.

Saya masih bisa tidur, tapi mungkin terlalu banyak.

Kebanyakan orang yang saya mintai dukungan menyebut saya overacting, drama queen, lebay, sifat anak sekolahan, kekanak-kanakan.

Dan saya pernah terjebak dalam doktrin mereka. Saya mengatakan pada diri saya sendiri bahwa saya hanya berlebihan. Saya baik. Saya terus mengatakan itu sebelum saya pergi tidur, atau saat saya bangun tidur.

Tapi gejalanya tidak bisa dihentikan.

Rasa sakitnya sungguhan.

Saya banyak kehilangan berat badan.

Kau akan sadar saat ada yang salah dengan dirimu.

Perubahan suasana hati yang ekstrim. Rasa lelah. Kebingungan.

Tertawa, menangis, marah, lelah lalu kesakitan. Dan itu bukan overacting, itu bukan cari perhatian atau mengada-ada. Itu berputar seharian. Berulang kali tiga sampai lima kali dalam sehari. Satu hari terasa sangat panjang, hingga saya sampai dititik saya yakin tidak bisa melakukannya lagi.

Tapi saya tidak bisa mengendalikannya.

Kadang saya hanya bersandar dan melihat langit-langit. Menunggunya berlalu.

Saya makan tapi tubuh saya tidak mencerna dengan baik.

Saya menghubungi beberapa orang untuk bicara. Tapi kebanyakan dari mereka tidak membantu.

Kalau kalian tau tulisan saya sebelumnya, saya mengatakan orang indonesia kurang berempati dengan orang-orang yang menderita penyakit mental. Dan itu benar.

Mungkin pendekatan spritual membantu. Secara alami orang-orang yang mengabdikan dirinya untuk agama memiliki pembawaan yang lebih hangat. Mereka lebih pengertian dan mereka tidak menyebut saya lemah mental.

Menurut saya itu luar biasa.

Karena kebanyak orang yang saya ajak bicara soal permasalahan saya menyebut saya lemah mental atau mental anak sekolah.

Motivasi yang mereka sampaikan tidak seperti golden ways, kau tau? Tidak seperti seminar motivasi diri seharga jutaan rupiah.

Mereka tidak mencuci otakmu seperti yang beredar di video video.

Mereka hanya membantumu. Dan kau bisa merasakan ketulusan dari semua itu.

Lalu setelah delapan bulan yang panjang, dengan beberapa terapi. Sebenarnya saya menghindari beberapa orang yang cenderung merusak suasana hati saya. Dan itu membantu.

Itu tidak berarti saya membenci seseorang.

Membenci itu sangat melelahkan.

Jadi saya berusaha melepaskannya.

Hanya saja. Saya ingin memastikan tubuh dan fikiran saya membaik.

Saya berhenti meyakini jika saya bersikap berlebihan. Ada hal-hal yang sulit diatasi, ada emosi-emosi yang terperangkap dalam diri saya, dan ada kalanya saya terhipnotis oleh permasalahan yang menimpa saya.

Mungkin bukan masalah yang sangat besar.

Tapi kau tetap bisa terjebak, bahkan diretakan kecil kan?

Beberapa hal mungkin berasal dari kesalahan diri sendiri. Tapi saat depresi, penting untukmu mengobatinya. Bukan hanya sekedar menyalahkan diri sendiri dan orang lain. Kau harus tau kapan kesedihanmu bisa jadi sangat tidak normal. Seberapa banyak emosimu berubah dan seberapa berbahaya saat kau mengabaikan pesan yang coba disampaikan tubuhmu.

Dan jangan abaikan saat kau mulai berfikir untuk mengakhiri hidupmu.

Menurut saya, kita harus berhenti menyepelekan diri kita sendiri. Meskipun orang lain tidak menganggap kita serius.

Saat depresi kita bisa jadi sangat tidak rasional, mungkin berhalusinasi dan mungkin kesulitan mengendalikan diri.

Sebenarnya beberapa hal yang kau hawatirkan, itu tidak nyata.

Jadi berusahalah keluar dari kecemasanmu untuk langkah awal.

Jika sangat sulit cobalah berkonsultasi dengan dokter. Menurut saya itu langkah yang penting.

Karena stress bisa reda jika dibicarakan.

Tapi saat kau sakit, perlu ada penanganan yang tepat, perlu ada obat yang tepat, dan kau perlu menemui orang yang tepat untuk dapat semua itu.

Stigma Salah tentang Perasaan

Kebanyakan orang mengutuk orang yang menolak cintanya.
Itu lucu.
Yah kadang kadang kita bisa benar-benar dibutakan. Kadang-kadang kita jadi sangat terobsesi. Penolakan kadang melukai harga diri kita.
Tapi kau tau, kutukan tidak berkerja seperti cerita malin kundang? Saat kau mengutuk seseorang, kau sedang mengutuk dirimu sendiri.
Jadi hal buruk akan menimpa hidupmu lebih dulu sebelum menimpa orang lain.
Lagipula stigma salah sudah terlanjur tertanam dalam pikiran kita.
“Kau menolak orang paling baik didunia, kau akan dapat balasannya.”
Padahal tidak begitu.
Kau tidak bisa mengatakan itu hanya karena seorang wanita menolak cintamu.
Yah kau mungkin terlalu baik. Dan wanita itu hanya tidak cukup pantas untuk kebaikanmu.
Dan kau tau?
Kau tidak bisa memaksakan keinginanmu pada orang lain.
Hal yang harus kau mengerti adalah.
Seseorang tidak bisa merasa bersalah karena tidak menyukaimu. Orang itu tidak bisa menyesal karena menolak orang yang tidak disukainya.
Tidak ada yang bertanggung jawab atas perasaanmu kecuali dirimu sendiri.
Kau bisa memilih orang seperti apa yang akan kau sukai.
Dan orang lain juga sungguhan berfikir sama sepertimu. Mereka juga memilih orang seperti apa yang ingin mereka temui.
Jadi kau tidak bisa mengutuk seseorang yang menolakmu, berharap suatu saat dia menyesali perbuatannya.
Itu tidak rasional.